Kamis, 23 Juli 2015

MASKIL: IMPLIKASI, APLIKASI, DAN APERSEPSI


MASKIL: IMPLIKASI, APLIKASI, DAN APERSEPSI

Dari Daud. Nyanyian pengajaran. (Mzm. 32:1)


DIDACTIC SONG

Maskil, transliterasi sebuah kata Ibrani lyKif.m; yang oleh Alkitab berbahasa Indonesia seperti TB, BIS, MILT diterjemahkan “nyanyian pengajaran.” Kata ini muncul dalam kitab Mazmur, yakni dalam: Mazmur 32; 42; 44; 45; 52; 53; 54; dan sebagainya. NAS dan KJV yang merupakan terjemahan harafiah tidak menerjemahkan kata “maskil” ini. Bahkan NIV yang merupakan terjemahan padan fungsional pun tidak menerjemahkannya.

Memang, menurut Net Bible Notes (commentary yang dihormati dan jadi acuan banyak teolog), arti kata Ibrani maskil sebenarnya tak diketahui secara pasti. Namun kalau menelusuri dari asal katanya, kata maskil berasal dari kata kerja Ibrani yang artinya “menjadi bijaksana.” Beberapa arti yang disarankan Net Bible Notes dan bisa dipertimbangkan antara lain: “a contemplative song,” (nyanyian perenungan); “a song imparting moral wisdom,” (nyanyian yang menyampaikan kebijaksanaan moral) dan sebagainya.[1] ISBE juga menyatakan hal senada. ISBE menyatakan beberapa dari 13 Mazmur meneguhkan pendapat bahwa judul “maskil ini” bersifat didaktis, sementara beberapa lainnya memang jarang dikelompokkan sebagai nyanyian pengajaran.[2]Berdasarkan asal kata dan pertimbangan-pertimbangan tersebut, maskil bisa disebutinstructive song (nyanyian yang mengandung pelajaran);[3]  atau didactic song (nyanyian didaktis), seperti dikatakan EASTON bahwa maskil adalah nyanyian pelajaran kebijaksanaan atau kesalehan.[4]Maskil adalah syair yang memberi pelajaran, yaitu suatu komposisi yang mengemukakan pengetahuan-pengetahuan ilahi.[5]


IMPLIKASI

Bila kita menyelidiki Alkitab kita akan mengetahui bahwa maskil berimplikasi bagi umat Tuhan, yakni: untuk pengingat Firman Tuhan, untuk penuntun ibadah, untuk pengajaran dan pertumbuhan rohani serta pendorong kebangunan rohani.

Pengingat Firman Tuhan
Kita tahu bahwa maskil atau didactic song atau nyanyian pengajaran telah diperintahkan Tuhan sejak zaman Musa agar diajarkan kepada umat Israel. Tujuannya sebagai kesaksian turun-temurun agar umat Israel ingat akan Firman Tuhan (Ul. 31:19-22).

Penuntun Ibadah
Maskil juga digunakan Daud dalam ibadah di rumah Tuhan (Tabernakel Daud). Maskil Mazmur 32; 42; 45 dan 78 adalah maskil yang dinyanyikan secara tetap di Bait Suci. Daudlah yang pertama kali membentuk organisasi musik dengan sangat mengesankan dan menjadikannya sebagai bagian penting dalam ibadah nasional Israel. Pada masa Daud ada 4.000 penyanyi dan musisi profesional (1Taw. 23:5) yang dibaginya dalam 24 divisi dan masing-masing divisi dilatih 24 chief of musician (1Taw. 25:7-8) dan 3 guru besar (1Taw. 25:1-4). Dalam PB, Tuhan juga memerintahkan maskil untuk dipakai dalam ibadah (Ef. 5:19). Perintah untuk menggunakan Mazmur dalam Efesus 5:19 ini mempunyai pengertian bahwa maskil (mazmur pengajaran) termasuk di dalamnya.

Pengajaran dan Pertumbuhan Rohani Umat Tuhan
Namun peran maskil tak berhenti di Bait Allah orang Israel. Para rasul sering menggunakan maskil untuk menguraikan teologi mereka. Sebut saja Paulus. Paulus menggunakan maskil Mazmur 32:1-2 dan 53:2-4 untuk menjelaskan “Pembenaran karena Iman” (Rm. 4:6-8; 3:10-12); Paulus juga mengutip maskil Mazmur 45:7-8 untuk menjelaskan “keunggulan Kristus” (Ibr. 1:8-9). Petrus juga menggunakan maskil, bahkan Tuhan Yesus juga mengutipnya (Mzm. 78:2 band. Mat. 13:35). Sehingga implikasi maskil dalam pertumbuhan rohani umat Tuhan sangat terasa faedahnya, selaras dengan arti kata maskil itu sendiri.

Pendorong Kebangunan Rohani
Bukan suatu kebetulan kalau kebangunan rohani umat Israel terjadi setelah Daud membuat terobosan dengan menjadikan musik sebagai penuntun ibadah di rumah Tuhan. Setelah Daud, pada masa Salomo pagelaran musik Bait Allah semakin agung. Yosephus mencatat ada 200.000 peniup terompet dan 200.000 penyanyi terlatih di masa Salomo untuk menyanyikan Mazmur di Bait Allah. Pada masa ini Israel mengalami kebangunan rohani, nama besar dan penghormatan dari bangsa-bangsa sekitarnya. Namun semua itu pudar tatkala pemimpin-pemimpin mereka jatuh dalam penyembahan berhala. Selanjutnya kita bisa menengok pada Hizkia yang melakukan reformasi di segala bidang terutama pengajaran dan musik (2Taw. 29-31; 2Taw. 31:2-4; dan 29:25). Setelah reformasi tersebut, kerajaan Yehuda memperoleh kesejahteraan dan keagungannya (2Taw. 32:33). Reformasi kembali terjadi di bawah kepemimpinan Ezra dan Nehemia (Ezr. 3:10) dan kembali musik memainkan peran yang besar. Repetisi tersebut membentangkan pola tak terbantahkan di hadapan kita bahwa musik khususnya maskil sebagai nyanyian pengajaran ikut menjadi pendorong kebangunan rohani umat Tuhan.


APLIKASI dan APERSEPSI

“Kesehatan gereja di dalam sejarah selalu berkaitan dengan kualitas musik dan penyembahannya.”[6] Bicara kualitas musik dan penyembahan, maka kita tak bisa mengelak adanya kebutuhan maskil atau nyanyian-nyanyian pengajaran untuk gereja di masa kini, terlebih bila gereja mendambakan reformasi rohani ataupun memimpikan transformasi. Nyanyian dengan unsur vertikal seperti nyanyian pujian, nyanyian syukur dan nyanyian pengagungan sangat penting, namun kita harus ingat bahwa musik gereja mempunyai visi misi. Dan karena visi misi gereja terdapat dalam Amanat Agung, maka musik gereja pun sama. Sehingga nyanyian/lagu haruslah mempunyai unsur horizontal, yakni berdampak bagi pertumbuhan dan kedewasaan iman jemaat, dan maskil adalah sistem yang tepat.

Hanya saja, kemudian timbul satu pemikiran, bagaimana mengimplementasikan maskil dalam konteks kekinian? Pertama, kita harus mengetahui struktur maskil itu sendiri, dan kedua, menggubah nyanyian atau lagu pujian berdasarkan struktur maskil dan dengan urapan kreatif Roh kudus. 

Dosen Musik Gereja & Hermeneutika


[1] Commentary of Net Bible Notes: “Ps 32:1”
[2] International Standard Bible Encyclopedia: “Book of Psalms”
[3] American Tract Society Bible Dictionary: “Maschil”
[4] Easton’s Revised Bible Dictionary: “Maschil”
[5] Ensiklopedi Alkitab Masa Kini: “Kitab Mazmur”
[6] Paul G. Caram: Kekristenan Sejati “Pentingnya Musik”

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More