THE ARROW OF VICTORY

Berkatalah Elisa: "Panahlah!" Lalu dipanahnya. Kemudian berkatalah Elisa: "Itulah anak panah kemenangan dari pada TUHAN, anak panah kemenangan terhadap Aram. Engkau akan mengalahkan Aram di Afek sampai habis lenyap."

INCOMPLETE VICTORY

Berkatalah Elisa: "Panahlah!" Lalu dipanahnya. Kemudian berkatalah Elisa: "Itulah anak panah kemenangan dari pada TUHAN, anak panah kemenangan terhadap Aram. Engkau akan mengalahkan Aram di Afek sampai habis lenyap."

SEPERTI HUJAN YANG MENGALIR

Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.

INCORRUPTIBLE SEED

1 Petrus 1:23 Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal.

JALAN BERPUTAR

Allah tidak menuntun mereka melalui jalan ke negeri orang Filistin, walaupun jalan ini yang paling dekat; sebab firman Allah: "Jangan-jangan bangsa itu menyesal, apabila mereka menghadapi peperangan, sehingga mereka kembali ke Mesir."

Tampilkan postingan dengan label Cara Tuhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cara Tuhan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Agustus 2016

ANGGUR TUA

ANGGUR TUA
oleh: Edy Siswoko

Lukas 5:36-39
“Tetapi anggur yang baru harus disimpan dalam kantong yang baru pula. Dan tidak seorangpun yang telah minum anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata: Anggur yang tua itu baik." (ayat 38-39)

Tahun 1967 saat perang Vietnam, AS memakai bom-bom lama/tua. Keputusan memakai bom-bom tua itu terbukti sangat merugikan AS, karena suatu hari tanggal 29 Juli 1967, bom-bom tua itu memicu bencana besar bagi AS, nyawa 134 tentara melayang dan AS menderita kerugian lebih dari 72 juta dolar. Sejak peristiwa itu AS jadi jera dan tak pernah lagi memakai bom tua dalam perang.

Dalam bacaan kita hari ini, Yesus bicara tentang anggur baru harus disimpan di kantong kulit baru. Kantong kulit tua tak punya daya pegas sehingga tak bisa dipakai menyimpan anggur baru. Anggur tua telah difermentasi dan mengandung alkohol, sedang anggur baru masih belum difermentasi, masih murni. Makanya orang yang telah minum anggur tua tak akan ingin anggur yang baru sebab ia pasti menganggap anggur tua lebih enak. Anggur tua (difermentasi) mewakili ajaran Taurat yang telah dicampur tradisi & dongeng oleh orang Yahudi, sedang anggur baru (tidak difermentasi) ialah ajaran Yesus yang merupakan pernyataan baru dan murni dari Allah.

Seperti orang Farisi & guru-guru agama menolak ajaran Yesus karena lebih menyukai hukum Taurat yang telah mereka campur dengan tradisi, begitu pun sampai sekarang masih ada orang Kristen yang masih memakai kantong tua yakni: masih terikat dengan tradisi, cara hidup manusia lama, dan nilai-nilai falsafah duniawi, yang bertentangan dengan Injil. Padahal Injil ialah pernyataan baru Allah dan harus diungkapkan dengan cara penyembahan dan cara ibadah yang baru. Seperti AS yang memakai bom tua yang ternyata mendatangkan maut, begitulah bila kita memelihara kebiasaan dan nilai-nilai lama yang bertentangan dengan Injil, hal itu akan mengantarkan kita pada maut.

Beribadahlah pada Tuhan dengan benar, bukan dengan tradisi dan dongeng

Rabu, 10 Oktober 2012

TERTINDAS ITU KESEMPATAN UNTUK BELAJAR


Mazmur 119:65-72 
Bahwa aku tertindas itu baik bagiku supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu. 

Daud mengatakan: "Tertindas itu baik bagiku supaya aku belajar...." Mungkin kita berpikir apakah perkataan ini tidak salah? Tidak, Daud memang memandang keadaan tertindas sebagai kesempatan agar Daud belajar. Belajar apa?

1. Belajar ketetapan Tuhan (Mazmur 119:68, 71).
Pengakuan Daud ini adalah inti stanza ke-9 ini, bahkan Daud juga mengajarkannya pada Salomo kecil. Ketetapan Tuhan yang dimaksud Daud adalah tugas dan panggilan Daud, beban yang harus dipikul Daud dan seluruh rencana Tuhan untuk Daud. Melalui ketertindasan yang dialami, Daud jadi mengerti apa rencana Tuhan baginya & apa yang harus ia lakukan, apa yang harus ia tinggalkan atau lepaskan agar rencana Tuhan itu digenapi dalam hidupnya. Ya, sering manusia baru bisa memahami rencana Tuhan bagi mereka ketika mereka dalam ketertindasan. Jadi bila saudara tertindas, itulah kesempatan mata rohani saudara terbuka dan saudara jadi mengerti rencanaNya.   

2. Belajar memiliki iman yang sempurna (Mazm. 119:67). 
Iman yang sempurna itu melewati proses belajar. Dan penindasan dapat melatih iman kita pada kesempurnaan, dimana iman kita tidak lagi tergantung pada keadaan atau situasi. Itulah yang dialami Daud dimana hatinya pernah menyimpang, tapi setelah tertindas, miskin dan sengsara membuat Daud tidak bisa percaya pada apapun kecuali pada Tuhan. Jadi bila saudara tertindas, itulah kesempatan iman saudara berkembang. Sebab iman sering tumbuh sehat bukan pada saat keadaan baik-baik saja tapi saat kita tertindas, saat itulah iman dimurnikan dan motivasi yang salah diluruskan. 

3. Belajar bijaksana (Mazmur 119:65-66, 69-70)
Ada kontras dalam ayat ini, dimana orang-orang sombong (keluarga Saul) menindas, memfitnah & memburu Daud karena rasa iri yang gila, hati mereka tebal seperti lemak artinya dibutakan oleh kesenangan & kemegahan sehingga tak bisa melihat hal-hal rohani yang Tuhan kerjakan. Sebaliknya, penindasan mereka justru membuat Daud rendah hati, membuka hatinya bagi Firman Tuhan dan itulah yang menjadikannya bijaksana, mampu memahami kehidupan dengan perspektif yang lebih baik daripada orang-orang yang sombong. 

Begitulah, ketertindasan bisa menjadi kesempatan untuk belajar banyak hal & mendorong manusia untuk maju. Jadi, bersyukurlah bila tertindas karena tertindas itu baik bagi saudara! Amen. 

Oleh: Yesaya Edy S
Dimuat dalam Tuntunan Hidup Berkemenangan Edisi November 2011
 

Minggu, 09 September 2012

MASALAH ITU MENGASAH

Hakim-Hakim 3:1-3
Inilah bangsa-bangsa yang dibiarkan TUHAN tinggal untuk mencobai orang Israel itu dengan perantaraan mereka, yakni semua orang Israel yang tidak mengenal perang Kanaan. Maksudnya hanyalah, supaya keturunan-keturunan orang Israel yang tidak mengenal perang yang sudah-sudah, dilatih berperang oleh TUHAN. Yang tinggal ialah kelima raja kota orang Filistin dan semua orang Kanaan, orang Sidon dan orang Hewi, yang mendiami pegunungan Libanon, dari gunung Baal-Hermon sampai ke jalan yang menuju ke Hamat.

Bagaimana saudara melihat masalah? Mari sejenak kita melihat masalah dari sudut pandang Tuhan. Saat orang Israel tiba di Kanaan, ada musuh-musuh Israel yang dibiarkan Tuhan tinggal di Kanaan, maksud-Nya supaya generasi muda Israel yang belum mengenal perang dilatih berperang oleh Tuhan. 

Kehadiran musuh itu menyebabkan banyak masalah bagi kerohanian maupun jasmani orang Israel seperti: memerangi orang Israel & menjerat mereka dalam dosa. Meski di mata orang Israel kehadiran musuh itu adalah masalah, tapi Firman Tuhan diatas jelas menyatakan bahwa bagi Tuhan kehadiran musuh (masalah) adalah alat untuk melatih (mengasah) orang Israel berperang. 

Arti mengasah yaitu usaha mempertajam dengan latihan-latihan yang kontinyu untuk mengatasi kelemahan dan memiliki kemampuan. Kelemahan Israel adalah tak punya kemampuan untuk berperang, padahal Tuhan ingin Israel menang dalam tiap peperangannya baik perang secara rohani maupun secara fisik, karena itulah Tuhan mengasah mereka agar menjadi orang yang mental dan spiritualnya tangguh dengan membiarkan musuh tetap ada di sekitar mereka

Sampai sekarangpun musuh anda (iblis, orang yang tidak percaya, sistem dunia, kedagingan) menyebabkan banyak masalah bagi orang percaya. Mereka diizinkan Tuhan ada di sekitar saudara untuk mengasah saudara menjadi orang yang punya mental & spiritual yang tangguh. Masalah memang bisa jadi jerat dan membuat saudara jatuh dalam dosa bila saudara tidak bersekutu dengan Tuhan & memilih menyerah pada masalah. Tapi bila bersekutu dengan Tuhan saudara dapat melewati masalah itu & menjadi makin tangguh, makin siap menghadapi masalah lain yang lebih besar dan unggul dalam pertempuran yang makin hari makin meningkat dan besar. 

Makin sering bertemu masalah & menghadapinya (tidak lari), maka masalah itu mengasah sedemikian rupa sehingga pada waktunya saudara mampu menjawab tantangan yang lebih besar, masalah mendorong pikiran saudara terbuka pada cara-cara baru yang kreatif, masalah mendorong saudara selalu melekat pada Tuhan, masalah mengasah ketajaman rohani saudara. 

Jadi jangan ambil jalan pintas, masalah bukan untuk dihindari tapi dihadapi, jangan menyerah dengan masalah, sebab masalah itu mengasah

Oleh: Yesaya Edy S
Dimuat dalam Tuntunan Hidup Berkemenangan Edisi November 2011

Jumat, 07 September 2012

BERGAUL DENGAN ALLAH

BERGAUL DENGAN ALLAH
Oleh: Edy Siwoko

Bacaan: Kejadian pasal 5 dan 6 

Kejadian 5:24  Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah.

Kejadian 6:9  Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.

Adakah yang dapat menghentikan lajunya kematian dibumi ini? Kejadian Pasal 5 yang baru saudara baca menunjukkan pola berulang-ulang, bahwa manusia lahir, hidup, melahirkan anak-cucu, dan akhirnya...setelah hidup sekian tahun lalu mati. Bukankah itu wajar? Memang wajar, begitulah manusia hidup di bumi, tumbuh, berkembang sebentar, lalu gugur kebumi, sama seperti bunga rumput yang tumbuh tapi kemudian gugur ke tanah, dari debu mereka kembali menjadi debu.  

Dihadapkan pada fakta kehidupan yang begitu-begitu saja serta berujung pada kematian, kita bertanya-tanya, apakah ada pengharapan? Dalam pola berulang tentang hidup dan mati yang diceritakan pasal 5,  tiba-tiba terjadilah sebuah anomali atau sesuatu yang tidak biasa terjadi pada seorang tokoh bernama Henokh, dimana dengan tiba-tiba kita melihat bahwa ternyata tidak semua manusia mati. Itulah yang ditekankan oleh penulis Kitab Kejadian pada pasal 5 ini, bahwa hidup tidak harus begini terus, tetapi ada pengharapan, ada kemenangan, asalkan...hidup bergaul dengan Allah. 

Pengharapan dan kemenangan itu terlihat ketika penulis Kitab Kejadian menunjukkan bahwa hidup Henokh tidaklah berakhir, sementara hidup orang-orang lain berakhir. Henokh diangkat oleh Allah dan tidak mengalami kematian.
Kemenangan itu juga dialami oleh Nuh, cicit Henokh. Nuh juga tidak sudi menjalani hidup seperti manusia saat itu yang hidup dalam kejahatan, tetapi Nuh hidup bergaul dengan Allah, sehingga Nuh terpelihara hidupnya ketika air bah datang membinasakan makhluk hidup dibumi.

Kedua orang tersebut menerima kemenangan atas kebinasaan karena mereka hidup bergaul dengan Allah. Namun.....apakah saudara tertarik untuk mengetahui hidup bergaul dengan Allah itu hidup yang bagaimana? Pada masa Nuh, tiada orang yang tertarik untuk mendengar kebenaran kecuali anak-menantu-dan istri Nuh saja yang mau mendengarnya. 

Kebenaran itu sudah diberitakan sejak Kakek buyut Nuh yaitu Henokh yang terus menerus menubuatkan hukuman Allah atas orang-orang fasik (Yudas 1:14-15), kemudian Allah secara pasti memberitahukan pada Nuh bahwa Allah akan menghakimi manusia dan sejak saat itu Nuh berkhotbah memberitakan kebenaran (2 Petrus 2:5), tapi sayang tak ada yang tertarik. Nah, bila saudara tertarik dengan topik ini, artinya saudara punya keinginan untuk menjadi berbeda dengan kebanyakan orang yang akan binasa.

Hidup bergaul dengan Allah adalah hidup dalam persekutuan dengan Allah. “Bergaul” atau aslinya “halak atau berjalan” merupakan metafora yang umumnya dipakai untuk menyatakan apakah orang berjalan dalam kerendahan hati dan taat kepada Allah, atau berjalan dalam dosa dan ketidaktaatan. Sedang secara khusus ungkapan “bergaul dengan Allah” ini mengandung unsur-unsur sikap, semangat dan karakter rohani yang membuat seseorang diterima dan diperkenan untuk hubungan rohani yang intim dengan Allah. Apakah unsur-unsur itu? Unsur-unsur tersebut ialah iman, ketaatan dan kekudusan. Ketiga unsur tersebut juga kita dapati sejak awal Kitab Kejadian dalam kisah terusirnya Adam & Hawa dari taman Eden, namun kali ini kita hanya akan belajar dari kisah hidup orang lain yakni Henokh dan Nuh.


1. IMAN
Ibrani 11:5-7 mencatat bahwa Henokh dan Nuh memiliki iman terhadap Allah, sehingga mereka ditentukan untuk dibenarkan oleh iman mereka. Selain dibenarkan, merekapun mendapatkan yang terbaik dari Allah karena iman mereka memperkenan Allah (Ibrani 11:5-6):

"Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah. Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. Karena iman, maka Nuh — dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan — dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya."
Iman adalah percaya kepada hal-hal yang belum kelihatan. Manusia tak bisa melihat Allah, namun Henokh dan Nuh percaya bahwa Allah ada dan berkuasa, mereka menjalani hidup seakan-akan melihat Allah menyertai mereka dan akhirnya.....mereka berdua melihat karya Allah.

Begitu pula saudara, saudara memiliki janji-janji Allah yang terbukti digenapi dalam sejarah. Maka seharusnya saudara tidak ragu untuk beriman kepada Dia yang tak pernah ingkar janji. Saudara tidak hanya akan dibenarkan oleh iman (Galatia 3:24) dan diselamatkan oleh iman (Roma 1:17), namun juga akan melihat karya Allah dinyatakan selama saudara hidup. Karena imanlah maka saudara akan diberkati (Roma 4:16), dimuliakan (Roma 5:2), dibebaskan (Roma 9:30), diluputkan dan menang karena iman (Ibrani 11:33), dikuatkan (Ibrani 11:34), serta menerima segala sesuatu yang dijanjikan (Ibrani 6:12).


2. KETAATAN
Seperti sudah dikatakan sebelumnya bahwa kata “bergaul” atau aslinya “halak atau berjalan” merupakan metafora yang umumnya dipakai untuk menyatakan apakah orang berjalan dalam kerendahan hati dan taat kepada Allah, atau berjalan dalam dosa dan taat pada oknum lain. Kata “bergaul” yang dikenakan pada Henokh dan Nuh berarti mereka berjalan mengikuti atau taat kepada Allah, seperti juga yang dilakukan oleh Abraham (Kejadian 17:1, 24:40). 

Henokh dan Nuh mengaktifkan iman mereka dengan ketaatan. Merekapun tadinya belum melihat realisasi janji-janji Allah, namun iman mereka memandang kepada Allah dan tidak menjadi goyah. Nuh mengimani Firman Allah yang akan menghukum bumi, maka dia mentaati perintah Allah untuk bekerja membangun bahtera, dan ia setia melakukannya sampai 120 tahun kemudian ketika air bah datang. Nuh mengaktifkan imannya dengan ketaatan, sehingga oleh iman percaya itu Nuh dan keluarganya pun selamat (Ibrani 11:7).

Aktifkanlah iman saudara dengan ketaatan. Mengapa saudara harus mati, bila sesungguhnya di dalam Dia saudara bisa hidup? Mengapa saudara harus kehilangan apa yang telah dijanjikan Tuhan, bila sesungguhnya di dalam Dia saudara bisa mendapatkannya? Tentu akan banyak hal yang akan menarik saudara dari ketaatan pada Tuhan, namun berjalanlah terus seakan-akan saudara melihat Tuhan menyertai saudara, setialah seakan-akan janji-janji Tuhan sudah tergenapi, maka....segala yang terbaik dari Tuhan pasti diperlihatkanNya kepada saudara.


3. KEKUDUSAN
Kekudusan sangat penting untuk bersekutu atau bergaul dengan Allah (2 Korintus 6:14-16). Pada masa Henokh dan Nuh, dosa manusia ditunjukkan dalam dua hal utama: nafsu seksual (Kejadian 6:2) dan kekerasan (Kejadian 6:11). Tapi Nuh dan Henokh menjalani hidup yang berbeda, mereka memilih untuk menjaga kekudusan. 

Ciri khas kehidupan Nuh adalah benar dan tidak bercela. Kata benar atau “sáddîq,”  melukiskan karakter Nuh dalam hubungannya dengan sesama manusia, dimana kejujuran dan kebenaran nampak jelas dalam seluruh tindak-tanduknya. Kata tidak bercela “Tãmîm,” biasa dipakai bahasa Ibrani untuk melukiskan hasil karya insinyur bangunan yang handal dimana bangunan yang dihasilkan itu lengkap, sempurna dan tiada cacatnya. Kedua kata ini mencirikan “halak” dengan Tuhan atau bergaul dengan Tuhan yakni karakter yang selalu ingin menyenangkan Tuhan berapapun harganya, setia dalam kebenaran, hidup dekat hadirat-Nya dengan selalu menjaga kekudusan di tengah-tengah zaman yang sedang merosot (band. Maz. 15:2; 26:1-3). 
Sekarangpun kebejatan manusia tetap sama, nafsu, perilaku amoral, pornografi, kefasikan dan kekerasan menguasai masyarakat kita. Mereka adalah orang-orang yang mati selagi masih hidup. Ya, bila manusia menganggap bahwa hari kematiannya masih merupakan “masa depan,” sesungguhnya itu keliru. Hari-hari kematian manusia, sesungguhnya telah diawali saat mereka tidak hidup bergaul dengan Allah: tidak hidup dalam iman-ketaatan-serta kekudusan

Tetapi saudara telah mengerti dari penjelasan diatas bahwa kehidupan macam apa yang saudara tempuh saat ini, menentukan akhir hidup saudara nanti. Bila saat ini saudara bergaul dengan Allah maka itu menjadikan saudara sebagai orang-orang yang “hidup” di antara orang-orang yang “mati.”

Karna itu saudara, putuskanlah untuk bergaul dengan Allah meski orang lain tidak! Ingatlah, kehidupanmu di masa depan, sesungguhnya diawali saat engkau di bumi hidup bergaul dengan Allah. 

"Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu." Amen! 

Oleh: Yesaya Edy S
Dimuat dalam Tuntunan Hidup Berkemenangan Edisi Oktober 2011 

Jumat, 17 Agustus 2012

APAKAH TUHAN MEMUKUL SAMPAI HANCUR?

Yesaya 28:26-29 

Sebab jintan hitam tidak diirik dengan eretan pengirik, dan roda gerobak tidak dipakai untuk menggiling jintan putih, tetapi jintan hitam diirik dengan memukul-mukulnya dengan galah, dan jintan putih dengan tongkat. 

Seorang teman yang mengalami kesusahan, bertanya pada saya: "Apakah Tuhan memukul saya sampai hancur?"  Jawabannya tentu tidak!  Tuhan takkan membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita (1Korintus 10:13). Yah...itu adalah jawaban klasik dan mungkin saudara bosan mendengarnya, tapi jawaban apa yang saudara inginkan kalau memang benar begitu adanya? 

Kebijaksanaan Tuhan dalam menangani anak-anakNya oleh nabi Yesaya dilukiskan seperti petani menangani biji-bijian.


Pertama, TUHAN MEMPROSES ANDA SESUAI KEKUATAN ANDA. 

Sama seperti Tuhan mengajari petani untuk menggunakan perkakas-perkakas pengirikan yang tepat untuk masing-masing jenis biji, demikianlah  TUHAN TIDAK MEMPROSES ANAK-ANAKNYA DENGAN CARA YANG SAMA  TETAPI SESUAI KEKUATAN atau DAYA TAHAN MEREKA (Yesaya 28:26-27). 

Yesaya 28:26-27 Mengenai adat kebiasaan ia telah diajari, diberi petunjuk oleh Allahnya. Sebab jintan hitam tidak diirik dengan eretan pengirik, dan roda gerobak tidak dipakai untuk menggiling jintan putih, tetapi jintan hitam diirik dengan memukul-mukulnya dengan galah, dan jintan putih dengan tongkat.

Gandum diirik dengan eretan pengirik & roda gerobak. Tetapi jintan tidak diirik dengan eretan pengirik, sebab eretan pengirik terlalu tajam untuk jintan & akan menyebabkan jintan hancur lebur. Jintan juga tidak diirik dengan roda gerobak, sebab jintan juga akan mudah hancur. Tetapi jintan diirik dengan memakai galah atau tongkat. 

Demikianlah...Tuhan tidak memproses anak-anak-Nya dengan cara yang sama, tetapi sesuai kekuatan atau daya tahan mereka. Ada anak yang fisik & mentalnya kuat, namun ada yang lemah, dan orangtua yang baik tahu cara mendidik dan memperlakukan mereka. Terlebih Bapa,  Dia adalah perancang saudara, maka Dia paling tahu seberapa besar kekuatan saudara dan tahu cara memperlakukan saudara.   


Kedua, TUHAN BERHATI-HATI MEMPROSES ANDA KARENA DIA MENGHARAPKAN HASIL DARI PROSES TERSEBUT.

Yesaya 28:28-29 Apakah orang waktu mengirik memukul gandum sampai hancur? sungguh tidak, orang tidak terus-menerus memukulnya sampai hancur! Dan sekalipun orang menjalankan di atas gandum itu jentera gerobak dengan kudanya, namun orang tidak akan menggilingnya sampai hancur. Dan inipun datangnya dari TUHAN semesta alam; Ia ajaib dalam keputusan† dan agung dalam kebijaksanaan.

Sama seperti Tuhan mengajari petani agar tidak mengirik padi sampai hancur sebab petani menginginkan hasil, sehingga ia mengirik dengan tepat supaya tidak membuat biji padi itu hancur, demikianlah Tuhan kita mengharapkan hasil atau buah kebenaran dari proses yang dilakukannya pada saudara, sehingga TUHAN BERHATI-HATI & TIDAK SEWENANG-WENANG DALAM MEMPROSES SAUDARA, Dia tak biarkan SAUDARA SAMPAI HANCUR! 

Oleh: Yesaya Edy S
Dimuat dalam Tuntunan Hidup berkemenangan edisi Oktober 2011
 

Minggu, 01 Juli 2012

ANAK YANG DISAYANGI

BELOVED SON

Amsal 3:11-12

Hai anakku, janganlah engkau menolak didikan TUHAN, dan janganlah engkau bosan akan peringatan-Nya. Karena TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi.

Di daerah saya ada seorang anak yang terkenal nakal. Ia tidak mau taat pada orang tuanya. Sikapnya kasar kepada orang lain. Ia tak segan-segan meludahi dan melemparkan batu pada orang yang menegurnya. Selidik punya selidik, ayahnya memang sudah berusaha mendisiplin dia, tapi ibunya selalu membela dan memanjakannya.

Kadang orangtua ingin memberi yang terbaik pada anak namun dengan cara yang salah seperti: memanjakan anak, anak selalu dibenarkan bila bersalah, tak ditegur saat nakal, tak pernah diajar minta maaf, dibiarkan sombong, tak diajar rendah hati, tak ada batasan atau larangan, selalu dituruti permintaannya, dibebaskan melakukan apa saja, tak pernah dihukum saat tidak taat dan sebagainya. 

Hal ini buruk bagi perkembangan anak & akan jadi bumerang bagi orang tua. Contohnya Daud yang tak pernah menegor anak-anaknya (1 Raja-Raja 1:6) sehingga Amnon, Absalom dan Adonia berani melawan ayah ibunya serta merusak masa depannya sendiri. 

Bila saudara orang tua yang menyayangi anak saudara, pasti tidak memanjakan anak saudara, tetapi saudara juga akan menegurnya saat ia berbuat salah supaya anak itu tidak terjerumus pada hal yang nanti lebih membahayakan hidupnya. Itu adalah tanda orang tua yang perhatian dan sayang anaknya.

Begitu pula Tuhan, Dia Ayah saudara, Dia sangat menyayangi saudara sehingga memberi yang terbaik yaitu memberi diri-Nya sendiri, mengorbankan diri-Nya demi saudara, Dia juga berikan harta terbaik yakni warisan surgawi, Ia juga berikan perhatian terbaik yaitu dengan mendidik saudara. Mungkin orang tua kandung saudara punya segalanya namun belum tentu mereka memperhatikan dan mendidik saudara dengan benar.

Tuhan mendidik saudara tak hanya dengan nasehat, peringatan, perintah & ketetapan, namun juga dengan teguran & pukulan (2 Samuel 7:14). Ia menegur & memukul saudara dengan:
  • dengan Firman Tuhan (2 Timotius 3:16), 
  • dengan mimpi dan penglihatan (Ayub 33:15-16), 
  • dengan perantaraan hamba Tuhan (Mikha 3:8, Yeremia 44:4), 
  • dengan sakit penyakit dan penderitaan (Ayub 33:19-22), 
  • dengan mengijinkan penindasan (Mazmur 119:71),
  • dan sebagainya.
Kini tinggal bagaimana respon saudara terhadap teguran & pukulan Tuhan? Apakah saudara bosan, kesal, marah lalu menolak? Padahal tujuan dari teguran & pukulan Tuhan ialah:
  • untuk mengembalikan saudara untuk taat pada-Nya (Mazmur 119:67-71), 
  • untuk memperbaiki pikiran, perbuatan maupun karakter saudara (Ayub. 33:16-17), 
  • serta untuk menyelamatkan hidup saudara dari maut (Ayub 33:18). 
Jadi, teguran & pukulan Tuhan bukan untuk kepentingan Tuhan tapi kepentingan saudara sendiri, demi kebaikan saudara sendiri, demi keselamatan saudara sendiri. 

Bukankah kalau saudara berdosa, maka bukan Tuhan yang dirugikan oleh dosa saudara, tetapi saudara sendirilah yang akan dirugikan. Nah sebelum saudara hancur oleh perbuatan saudara sendiri maka Tuhan menegur saudara untuk mencegah saudara & anak cucu saudara dari kehancuran. 

Begitu pula kalau saudara hidup benar, bukan Tuhan yang diuntungkan oleh kebenaran saudara, tetapi saudara sendirilah yang akan diuntungkan oleh kebenaran saudara, istri saudara, anak cucu saudara dan keluarga saudaralah yang diuntungkan oleh kebenaran saudara. Coba saudara pikirkan: apakah mungkin, kalau saudara taat pada Tuhan sehingga dengan ketaatan itu saudara bisa membuat Tuhan jadi berkuasa, tentu saja tidak mungkin bukan, sebab dari semula Tuhanlah yang paling berkuasa. Apakah mungkin, kalau saudara memberi pada Tuhan sehingga dengan pemberian itu saudara bisa membuat Tuhan jadi kaya, tentu saja tidak mungkin bukan, sebab dari semula Tuhanlah yang empunya bumi serta isinya.

Jadi saudaraku, pahamilah dan terimalah cara Tuhan menunjukkan kasih sayang-Nya melalui teguran & pukulan, relakanlah hatimu untuk ditegor (Wahyu 3:19) dan berbahagialah bila saudara ditegor-Nya (Ayub. 5:17) karena teguran itu bukti bahwa saudara adalah anak yang disayangi oleh Tuhan, Ayah saudara. 

Oleh: Yesaya Edy S
Tuntunan Hidup Berkemenangan Edisi Agustus 2011

 

Sabtu, 30 Juni 2012

JALAN BERPUTAR (2)

Seri Khotbah Tentang "Jalan Berputar"

JALAN BERPUTAR (2)

Keluaran 13:17-22

Tetapi Allah menuntun bangsa itu berputar melalui jalan di padang gurun menuju ke Laut Teberau. Dengan siap sedia berperang berjalanlah orang Israel dari tanah Mesir (ayat 18)

Orang tentu ingin mencari jalan terdekat untuk sampai di tujuan agar menghemat waktu maupun biaya, benar bukan? Padahal jalan terdekat & jalan pintas itu belum tentu baik. Orang juga ingin yang instan meski yang instan itu belum tentu baik. Orang juga ingin mimpinya cepat tercapai, ingin cepat melesat mencapai tujuannya. Itu sebabnya anak Tuhan kadang sedih mengapa jalan hidupnya harus berliku-liku dan berkata: “mengapa jalan hidupku harus begini?” 

Umat Israel juga mengalami hal yang sama. Tuhan tak langsung memimpin mereka melalui jalan tercepat untuk sampai ke Kanaan, tapi Ia memimpin mereka berjalan berputar melalui padang gurun. Kita telah belajar sebelumnya bahwa hal ini dilakukan Tuhan karena Tuhan telah mengukur kekuatan orang Israel. Kali ini kita akan belajar hal yang lain dari kisah ini.

Alasan kedua mengapa Tuhan membawa umat Israel pada jalan berputar dan bukan jalan terdekat ialah karena Tuhan juga ingin umat Israel belajar mempercayai cara-NYA memimpin mereka. 

Hal ini dibuktikan dengan fakta bahwa Tuhan sendirilah yang berjalan di depan umat Israel dalam tiang awan & tiang api (ayat 21). Umat Israel sudah percaya pada janji Tuhan, hal ini ditunjukkan dengan kemauan mereka keluar dari Mesir bahkan mereka juga membawa tulang-tulang Yusuf (ayat 19). Tetapi….percaya pada janji Tuhan saja tidak cukup bila mereka tidak percaya pada cara Tuhan. Tuhan ingin menepati janjiNya, tapi itu hanya akan terjadi bila dilakukan sesuai dengan caraNya, bukan cara orang Israel sendiri. 
  
Saudaraku, kita sekarang juga sedang dipimpin Tuhan mengarungi padang gurun dunia ini. Dan tiang awan atau tiang apinya adalah Firman Tuhan, seperti yang dikatakan Mazmur 119:105 "Firman-Mu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku." Tuhan juga memberikan Roh Kudus untuk memimpin kita.

Mengikut Tuhan berarti memberi diri dipimpin oleh Tuhan. Dan memberi diri dipimpin oleh Tuhan artinya mengikuti dan mempercayai sepenuhnya cara-cara Tuhan. Itulah syarat mutlak. Namun hasilnya sungguh tak mengecewakan, karena sama seperti orang Israel disertai serta dilindungi oleh Tuhan sepanjang mereka mentaati pimpinan-Nya, maka begitu pula kita.

Mungkin saat ini saudara belum dapat melihat gambaran yang indah dari jalan Tuhan yang berputar itu, karena gambaran itu baru bisa saudara lihat nanti setelah proses itu berlalu dan saudara merasakan manfaatnya. Jadi percayailah & taatilah cara Tuhan yang diterapkanNya pada saudara agar janji Tuhan terlaksana seperti kehendakNya. Amin.

Sebelumnya: Jalan Berputar (1)


JALAN BERPUTAR (1)

Seri Khotbah Tentang "Jalan Berputar"

JALAN BERPUTAR
Oleh: Edy Siswoko

Keluaran 13:17-22
Allah tidak menuntun mereka melalui jalan ke negeri orang Filistin, walaupun jalan ini yang paling dekat; sebab firman Allah: "Jangan-jangan bangsa itu menyesal, apabila mereka menghadapi peperangan, sehingga mereka kembali ke Mesir." (ayat 17)

Setelah keluar dari Mesir, Tuhan tidak menuntun orang Israel melintasi jalur Gaza, yaitu jalan yang menuju perbatasan Mesir dan Filistin, walau itu jalan terdekat menuju tanah perjanjian.  

Selama ini kita sering dengar bahwa orang Israel membutuhkan waktu 40 tahun untuk dapat masuk tanah Kanaan dan berputar-putar di padang gurun dikarenakan kekerasan hati mereka. Ya benar, itu memang salah satu penyebabnya. Namun jalan berputar tidak selalu buruk, mari kita melihat sisi baiknya, dimana kita bersyukur Musa juga menuliskan alasan Tuhan membuat orang Israel menempuh jalan berputar. 

Alasan Tuhan yang pertama membuat orang Israel menempuh jalan berputar adalah karena Tuhan telah mengukur kekuatan & kelemahan mereka.

Tindakan Tuhan ini berdasarkan kemahatahuanNya, dimana sejak awal Tuhan tahu apa yang akan terjadi yaitu bahwa orang Israel akan menyesal bila menghadapi peperangan. Sebab jalur ini memang akan membuat mereka bertempur dengan pasukan Mesir di perbatasan atau dengan orang Filistin yang ahli berperang dan mempunyai persenjataan yang lebih maju.

Berdasarkan pertimbangan tentang kekuatan & kelemahan orang Israel tersebut Tuhanpun membuat keputusan untuk menghindarkan orang Israel dari pertempuran. Apakah artinya ini? Firman Tuhan ini menjamin kita bahwa:  
  • Tuhan tak biarkan anak-anakNya berperang sebelum mereka siap. Secara manusia orang Israel sudah siap perang (ayat 18) tapi di Mata Tuhan mereka belum siap perang, mereka masih lemah secara mental maupun fisik. Mental mereka mental budak yang mudah takluk, mudah menyerah, mudah putus asa. Fisik mereka juga fisik seorang budak pembuat batu bata yang tidak punya skill atau keahlian perang, sehingga takkan mampu melawan tentara Mesir ataupun tentara Filistin yang sudah lama mahir berperang. Peperangan tanpa kesiapan akan membawa penyesalan dan dapat membawa kembali ke perbudakan. Demikianlah Tuhan takkan biarkan saudara menghadapi pencobaan atau pergumulan sebelum saudara siap menanggungnya.  
  • Tuhan tahu saat yang tepat. Tuhan tahu saat yang tepat kapan orang Israel siap berperang, terbukti beberapa waktu kemudian mereka disuruh melawan Amalek dan menang (Keluaran 17:8-16). 
Ada saatnya Tuhan menghindarkan saudara dari pergumulan, tapi ada saatnya saudara harus menghadapi pergumulan. Semua itu karena Tuhan sudah mengukur kekuatan & kelemahan saudara, sehingga bila Tuhan ijinkan saudara bertemu masalah, itu artinya Tuhan mengukur saudara mampu menanggungnya bahkan mengalahkannya. Jadi, jangan menyerah dengan masalah, Tuhan sudah mengukur kekuatan saudara

Selanjutnya: Jalan Berputar 2


Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More