THE ARROW OF VICTORY

Berkatalah Elisa: "Panahlah!" Lalu dipanahnya. Kemudian berkatalah Elisa: "Itulah anak panah kemenangan dari pada TUHAN, anak panah kemenangan terhadap Aram. Engkau akan mengalahkan Aram di Afek sampai habis lenyap."

INCOMPLETE VICTORY

Berkatalah Elisa: "Panahlah!" Lalu dipanahnya. Kemudian berkatalah Elisa: "Itulah anak panah kemenangan dari pada TUHAN, anak panah kemenangan terhadap Aram. Engkau akan mengalahkan Aram di Afek sampai habis lenyap."

SEPERTI HUJAN YANG MENGALIR

Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.

INCORRUPTIBLE SEED

1 Petrus 1:23 Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal.

JALAN BERPUTAR

Allah tidak menuntun mereka melalui jalan ke negeri orang Filistin, walaupun jalan ini yang paling dekat; sebab firman Allah: "Jangan-jangan bangsa itu menyesal, apabila mereka menghadapi peperangan, sehingga mereka kembali ke Mesir."

Tampilkan postingan dengan label Kemenangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kemenangan. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Agustus 2016

PEMIMPIN YANG TERPILIH

Seri Khotbah Tentang "Kemenangan"

PEMIMPIN YANG TERPILIH
Ditulis oleh: Edy Siswoko

Hakim-Hakim 6:1-24
Tetapi jawabnya kepada-Nya: "Ah Tuhanku, dengan apakah akan kuselamatkan orang Israel? Ketahuilah, kaumku adalah yang paling kecil di antara suku Manasye dan akupun seorang yang paling muda di antara kaum keluargaku." (ay. 15)

Di banyak negara-negara di dunia, seorang pemimpin nasional dipilih oleh rakyat. Namun pada zaman Perjanjian Lama, Allah yang memilih pemimpin nasional bangsa Israel, termasuk Musa, Gideon, dan Daud. Rakyat bisa dimanipulasi agar mau memilih pemimpin tertentu, tetapi tidak demikian dengan Tuhan. Pemimpin seperti apa yang dipilih Tuhan?

Ketika Tuhan merencanakan penyelamatan dan kemenangan untuk orang Israel, Dia lebih dulu memilih pemimpin bagi mereka, dan Dia memilih orang yang rendah hati (ay. 15). Gideon merasa kecil dan tak berarti dibanding yang lain. Pengakuan Gideon menunjukkan kerendahan hatinya. Para pemimpin Israel yang dipilih Tuhan biasanya punya sifat ini, contoh lainnya adalah Musa (Kel. 4:10-13). Mereka orang-orang yang merasa diri tak berarti dibanding orang lain, tapi justru orang seperti merekalah yang dipakai Tuhan. Orang yang tak percaya diri, akan lebih mengandalkan Tuhan dan percaya penuh pada-Nya, mereka lebih mudah taat dan dibentuk Tuhan.

Ternyata pilihan Tuhan atas tokoh-tokoh tersebut bukan melihat kondisi lahiriah namun semata kasih karunia Allah (ay. 17). Syaratnya tidak berdasar pada penampilan, kepandaian, atau kehebatan, tetapi pada hati yang tulus, rendah hati, mau dibentuk & mau taat pada-Nya (1Sam. 16:7). Tindakan kepahlawanan dan prestasi yang dicapai mereka, juga bukan karena kepiawaian mereka tapi disebabkan oleh penyertaan Tuhan (ay. 12 & 16). Mari memimpin dengan tulus, rendah hati, dan dengan ketaatan penuh pada Tuhan, karena kita dipilih menjadi pemimpin oleh kasih karunia-Nya.

Pemimpin yang dipilih Tuhan harus menaati kehendak Tuhan


Selanjutnya: Awal Dari pemulihan


Jumat, 07 September 2012

BERGAUL DENGAN ALLAH

BERGAUL DENGAN ALLAH
Oleh: Edy Siwoko

Bacaan: Kejadian pasal 5 dan 6 

Kejadian 5:24  Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah.

Kejadian 6:9  Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.

Adakah yang dapat menghentikan lajunya kematian dibumi ini? Kejadian Pasal 5 yang baru saudara baca menunjukkan pola berulang-ulang, bahwa manusia lahir, hidup, melahirkan anak-cucu, dan akhirnya...setelah hidup sekian tahun lalu mati. Bukankah itu wajar? Memang wajar, begitulah manusia hidup di bumi, tumbuh, berkembang sebentar, lalu gugur kebumi, sama seperti bunga rumput yang tumbuh tapi kemudian gugur ke tanah, dari debu mereka kembali menjadi debu.  

Dihadapkan pada fakta kehidupan yang begitu-begitu saja serta berujung pada kematian, kita bertanya-tanya, apakah ada pengharapan? Dalam pola berulang tentang hidup dan mati yang diceritakan pasal 5,  tiba-tiba terjadilah sebuah anomali atau sesuatu yang tidak biasa terjadi pada seorang tokoh bernama Henokh, dimana dengan tiba-tiba kita melihat bahwa ternyata tidak semua manusia mati. Itulah yang ditekankan oleh penulis Kitab Kejadian pada pasal 5 ini, bahwa hidup tidak harus begini terus, tetapi ada pengharapan, ada kemenangan, asalkan...hidup bergaul dengan Allah. 

Pengharapan dan kemenangan itu terlihat ketika penulis Kitab Kejadian menunjukkan bahwa hidup Henokh tidaklah berakhir, sementara hidup orang-orang lain berakhir. Henokh diangkat oleh Allah dan tidak mengalami kematian.
Kemenangan itu juga dialami oleh Nuh, cicit Henokh. Nuh juga tidak sudi menjalani hidup seperti manusia saat itu yang hidup dalam kejahatan, tetapi Nuh hidup bergaul dengan Allah, sehingga Nuh terpelihara hidupnya ketika air bah datang membinasakan makhluk hidup dibumi.

Kedua orang tersebut menerima kemenangan atas kebinasaan karena mereka hidup bergaul dengan Allah. Namun.....apakah saudara tertarik untuk mengetahui hidup bergaul dengan Allah itu hidup yang bagaimana? Pada masa Nuh, tiada orang yang tertarik untuk mendengar kebenaran kecuali anak-menantu-dan istri Nuh saja yang mau mendengarnya. 

Kebenaran itu sudah diberitakan sejak Kakek buyut Nuh yaitu Henokh yang terus menerus menubuatkan hukuman Allah atas orang-orang fasik (Yudas 1:14-15), kemudian Allah secara pasti memberitahukan pada Nuh bahwa Allah akan menghakimi manusia dan sejak saat itu Nuh berkhotbah memberitakan kebenaran (2 Petrus 2:5), tapi sayang tak ada yang tertarik. Nah, bila saudara tertarik dengan topik ini, artinya saudara punya keinginan untuk menjadi berbeda dengan kebanyakan orang yang akan binasa.

Hidup bergaul dengan Allah adalah hidup dalam persekutuan dengan Allah. “Bergaul” atau aslinya “halak atau berjalan” merupakan metafora yang umumnya dipakai untuk menyatakan apakah orang berjalan dalam kerendahan hati dan taat kepada Allah, atau berjalan dalam dosa dan ketidaktaatan. Sedang secara khusus ungkapan “bergaul dengan Allah” ini mengandung unsur-unsur sikap, semangat dan karakter rohani yang membuat seseorang diterima dan diperkenan untuk hubungan rohani yang intim dengan Allah. Apakah unsur-unsur itu? Unsur-unsur tersebut ialah iman, ketaatan dan kekudusan. Ketiga unsur tersebut juga kita dapati sejak awal Kitab Kejadian dalam kisah terusirnya Adam & Hawa dari taman Eden, namun kali ini kita hanya akan belajar dari kisah hidup orang lain yakni Henokh dan Nuh.


1. IMAN
Ibrani 11:5-7 mencatat bahwa Henokh dan Nuh memiliki iman terhadap Allah, sehingga mereka ditentukan untuk dibenarkan oleh iman mereka. Selain dibenarkan, merekapun mendapatkan yang terbaik dari Allah karena iman mereka memperkenan Allah (Ibrani 11:5-6):

"Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah. Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. Karena iman, maka Nuh — dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan — dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya."
Iman adalah percaya kepada hal-hal yang belum kelihatan. Manusia tak bisa melihat Allah, namun Henokh dan Nuh percaya bahwa Allah ada dan berkuasa, mereka menjalani hidup seakan-akan melihat Allah menyertai mereka dan akhirnya.....mereka berdua melihat karya Allah.

Begitu pula saudara, saudara memiliki janji-janji Allah yang terbukti digenapi dalam sejarah. Maka seharusnya saudara tidak ragu untuk beriman kepada Dia yang tak pernah ingkar janji. Saudara tidak hanya akan dibenarkan oleh iman (Galatia 3:24) dan diselamatkan oleh iman (Roma 1:17), namun juga akan melihat karya Allah dinyatakan selama saudara hidup. Karena imanlah maka saudara akan diberkati (Roma 4:16), dimuliakan (Roma 5:2), dibebaskan (Roma 9:30), diluputkan dan menang karena iman (Ibrani 11:33), dikuatkan (Ibrani 11:34), serta menerima segala sesuatu yang dijanjikan (Ibrani 6:12).


2. KETAATAN
Seperti sudah dikatakan sebelumnya bahwa kata “bergaul” atau aslinya “halak atau berjalan” merupakan metafora yang umumnya dipakai untuk menyatakan apakah orang berjalan dalam kerendahan hati dan taat kepada Allah, atau berjalan dalam dosa dan taat pada oknum lain. Kata “bergaul” yang dikenakan pada Henokh dan Nuh berarti mereka berjalan mengikuti atau taat kepada Allah, seperti juga yang dilakukan oleh Abraham (Kejadian 17:1, 24:40). 

Henokh dan Nuh mengaktifkan iman mereka dengan ketaatan. Merekapun tadinya belum melihat realisasi janji-janji Allah, namun iman mereka memandang kepada Allah dan tidak menjadi goyah. Nuh mengimani Firman Allah yang akan menghukum bumi, maka dia mentaati perintah Allah untuk bekerja membangun bahtera, dan ia setia melakukannya sampai 120 tahun kemudian ketika air bah datang. Nuh mengaktifkan imannya dengan ketaatan, sehingga oleh iman percaya itu Nuh dan keluarganya pun selamat (Ibrani 11:7).

Aktifkanlah iman saudara dengan ketaatan. Mengapa saudara harus mati, bila sesungguhnya di dalam Dia saudara bisa hidup? Mengapa saudara harus kehilangan apa yang telah dijanjikan Tuhan, bila sesungguhnya di dalam Dia saudara bisa mendapatkannya? Tentu akan banyak hal yang akan menarik saudara dari ketaatan pada Tuhan, namun berjalanlah terus seakan-akan saudara melihat Tuhan menyertai saudara, setialah seakan-akan janji-janji Tuhan sudah tergenapi, maka....segala yang terbaik dari Tuhan pasti diperlihatkanNya kepada saudara.


3. KEKUDUSAN
Kekudusan sangat penting untuk bersekutu atau bergaul dengan Allah (2 Korintus 6:14-16). Pada masa Henokh dan Nuh, dosa manusia ditunjukkan dalam dua hal utama: nafsu seksual (Kejadian 6:2) dan kekerasan (Kejadian 6:11). Tapi Nuh dan Henokh menjalani hidup yang berbeda, mereka memilih untuk menjaga kekudusan. 

Ciri khas kehidupan Nuh adalah benar dan tidak bercela. Kata benar atau “sáddîq,”  melukiskan karakter Nuh dalam hubungannya dengan sesama manusia, dimana kejujuran dan kebenaran nampak jelas dalam seluruh tindak-tanduknya. Kata tidak bercela “Tãmîm,” biasa dipakai bahasa Ibrani untuk melukiskan hasil karya insinyur bangunan yang handal dimana bangunan yang dihasilkan itu lengkap, sempurna dan tiada cacatnya. Kedua kata ini mencirikan “halak” dengan Tuhan atau bergaul dengan Tuhan yakni karakter yang selalu ingin menyenangkan Tuhan berapapun harganya, setia dalam kebenaran, hidup dekat hadirat-Nya dengan selalu menjaga kekudusan di tengah-tengah zaman yang sedang merosot (band. Maz. 15:2; 26:1-3). 
Sekarangpun kebejatan manusia tetap sama, nafsu, perilaku amoral, pornografi, kefasikan dan kekerasan menguasai masyarakat kita. Mereka adalah orang-orang yang mati selagi masih hidup. Ya, bila manusia menganggap bahwa hari kematiannya masih merupakan “masa depan,” sesungguhnya itu keliru. Hari-hari kematian manusia, sesungguhnya telah diawali saat mereka tidak hidup bergaul dengan Allah: tidak hidup dalam iman-ketaatan-serta kekudusan

Tetapi saudara telah mengerti dari penjelasan diatas bahwa kehidupan macam apa yang saudara tempuh saat ini, menentukan akhir hidup saudara nanti. Bila saat ini saudara bergaul dengan Allah maka itu menjadikan saudara sebagai orang-orang yang “hidup” di antara orang-orang yang “mati.”

Karna itu saudara, putuskanlah untuk bergaul dengan Allah meski orang lain tidak! Ingatlah, kehidupanmu di masa depan, sesungguhnya diawali saat engkau di bumi hidup bergaul dengan Allah. 

"Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu." Amen! 

Oleh: Yesaya Edy S
Dimuat dalam Tuntunan Hidup Berkemenangan Edisi Oktober 2011 

Kamis, 30 Agustus 2012

PERISAI DI ANTARA ENGKAU DAN BAHAYA (2)

Seri Khotbah "Tuhan Perisaiku"

Ulangan 33:29 
Berbahagialah engkau, hai Israel; siapakah yang sama dengan engkau? Suatu bangsa yang diselamatkan oleh TUHAN, perisai pertolongan 

Sama seperti yang difirmankan Tuhan melalui Daud, Musa pun menyatakan bahwa Tuhan-lah perisai Israel. Peristiwa dimana Tuhan menjadi perisai Israel terbukti saat mereka dikejar pasukan Firaun di belakang, sementara Laut Teberau menghadang mereka di depan. Tapi di saat krisis itu, malaikat Tuhan dan tiang awan yang tadinya di depan pasukan Israel, pindah ke belakang. 

Demikianlah malaikat Tuhan & tiang awan itu berdiri di antara pasukan Mesir & pasukan Israel sebagai perisai, yang menimbulkan kegelapan pekat sehingga sepanjang malam itu pasukan Mesir tak dapat menjamah orang Israel. Kesempatan itu dipakai Tuhan untuk menyeberangkan orang Israel dengan membelah air laut Teberau sehingga orang Israel berjalan di tanah kering dan selamat sampai di seberang Laut. 

Tuhan terlibat nyata dalam hidup orang Israel, Dia menjadi perisai orang Israel sehingga mereka jaya. Tuhan juga dapat menjadi perisai saudara. Tapi bagaimana agar Dia mau menjadi perisai saudara? 
  • Bila saudara berada dalam jalan yang benar (Amsal 2:7, Mazmur 7:11). Mazmur 18 mengungkap bahwa Tuhan menjadi perisai Daud sehingga ia memperoleh kemenangan atas musuh-musuhnya, dan itu karena Tuhan mau memperlakukan Daud setimpal dengan ketaatan Daud. Artinya, Tuhan dapat menjadi perisai saudara hanya bila saudara ada dalam jalan yang benar atau jalan ketaatan, sama seperti Tuhan bertindak menjadi perisai orang Israel hanya setelah mereka taat pada perintah Tuhan untuk keluar dari Mesir dan berjalan menuruti jalan yang ditunjukkan Tuhan. 
  • Bila saudara percaya (Mazmur 115:11). Tuhan akan bertindak menjadi perisai pertolongan bagi orang yang benar-benar percaya padanya, yang teruji imannya dan tak goyah walau dalam krisis.  
  • Bila saudara berlindung padaNya (Amsal 30:5, Mazmur 18:31). Saudara harus berlindung padaNya dan bukan pada kekuatan diluar Tuhan. Bila Tuhan menjadi perisai saudara maka bahaya atau musuh yang menyerang akan berhadapan langsung dengan Tuhan, jadi aktifkanlah perisai pertolongan saudara mulai sekarang!

Oleh Yesaya Edy S
Dimuat dalam Tuntunan Hidup Berkemenangan Edisi November 2011

Sebelumnya: Perisai Di antara Engkau dan Bahaya (1)

PERISAI DI ANTARA ENGKAU DAN BAHAYA (1)

Seri Khotbah: "Tuhan Perisaiku"

Mazmur 28:6-9 
TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya. 

Saat orang percaya merasa lelah menderita, mereka juga mulai bertanya-tanya “dimanakah Tuhan saat aku dalam bahaya?” Saudara sering mendengar bahwa Tuhan ada di depan saudara untuk menyelamatkan saudara, Dia juga ada di barisan lawan untuk menyerang musuh-Nya. Begitulah, semua komentar yang saudara dengar sering hanya menempatkan Tuhan sebagai pahlawan penyerang yang menyerang musuh untuk saudara. Padahal seorang pahlawan tidak hanya menyerang namun juga bertahan, sebab pertahanan yang kuat adalah kunci kemenangan. Kita juga perlu mempertanyakan, mengapa orang hanya mengatakan bahwa Tuhan ada di depan kita untuk menyelamatkan kita, bukankah bahaya bisa datang dari mana saja?

Daud seorang tentara yang handal mengerti hal itu. Firman Tuhan di atas memperlihatkan pada kita, bahwa untuk mendapat kemenangan dalam hidupnya, Daud tak hanya mengandalkan Tuhan sebagai kekuatannya namun Daud juga mengandalkan Tuhan sebagai perisainya. Perisai adalah senjata untuk melindungi diri dan mempertahankan diri dari serangan musuh. Saat senjata musuh menyerang, prajurit akan berlindung di balik perisai, ia akan menempatkan perisai untuk menghadang dan menangkis senjata musuh. Prajurit itu terlindungi karena ada perisai di antara dia dan bahaya. 

Begitulah maksud Daud dalam ayat ini, bahwa Tuhan sebagai perisai mempunyai makna bahwa Tuhan berdiri diantara Daud dan bahaya yang mengancamnya. Tak masalah apakah serangan itu datang dari depan, belakang, kiri, kanan atau dari atas & bawah, sebab Tuhan akan berada di antara dia & bahaya, sehingga bahaya yang datang dari arah manapun tak membuat Daud binasa, karena Tuhan berdiri sebagai perisai.

Jadi saudaraku, saat bahaya mengancam, tenanglah, jangan bingung dimanakah Tuhan saat itu...karena Tuhan sebagai perisaimu tak hanya ada di depanmu namun Tuhan ada di mana saja, entah itu di belakang, di kiri, di kanan, atau di atasmu, yang pasti Tuhan akan ada di antara ENGKAU dan bahaya untuk membantuMu bertahan dan melindungiMu!  

kemenanganMU dI hidup ini tergantung dari seberapa kuat pertahananMU, maka andalkanlah Tuhan sebagai perisai pertahananmu

Selanjutnya: "Perisai di antara Engkau dan Bahaya (2)

Oleh Yesaya Edy S
Dimuat dalam Tuntunan Hidup Berkemenangan Edisi November 2011 

Kamis, 02 Agustus 2012

FIGHT TO THE END

BERJUANG SAMPAI AKHIR 

2Samuel 23:9-12 
...padahal orang-orang Israel telah mengundurkan diri. Tetapi ia bangkit dan membunuh demikian banyak orang Filistin sampai tangannya lesu dan tinggal melekat pada pedangnya. TUHAN memberikan pada hari itu kemenangan yang besar. 

Peristiwa ini terjadi pertengahan Maret menjelang musim menuai, dimana tentara  Filistin hendak menduduki Lehi dan merampok bahan makanan orang Israel. Tentara Israel melarikan diri tapi Daud dan 3 ksatria-nya tetap berjuang.  

Inilah 3 ksatria Daud yang tetap berjuang sampai akhir: ksatria ke-1 Isybaal membunuh 800 orang dalam pertempuran tersebut. Ksatria ke-2 Eleazar, meski tentara Israel lari, Eleazar justru BANGKIT dan BERJUANG sendiri sampai tangannya lelah dan pedangnya melekat ditangannya (ayat 10). Membaca ini membuat saya teringat “Gambaru” yaitu falsafah orang Jepang yang artinya berjuang sampai darah penghabisan. Jepang terkenal dengan masyarakatnya yang gigih-bersemangat-serta mampu bangkit kembali dari keterpurukan. Ksatria ke-3 Shammah, tentara Israel juga meninggalkan Shammah sendiri, tetapi Shammah BERDIRI MEMPERTAHANKAN ladang itu SAMPAI AKHIR dari tentara Filistin (ayat 12). Perjuangan Daud bersama 3 ksatria tersebut membuahkan hasil, dimana mereka dapat mempertahankan Lehi dan bahan makanan Israel tidak jatuh pada tentara Filistin.

Namun kemenangan itu bukan karena kekuatan para pahlawan Daud. Dari Tuhanlah kemenangan itu berasal (ayat 10-12: "Tetapi ia bangkit dan membunuh demikian banyak orang Filistin sampai tangannya lesu dan tinggal melekat pada pedangnya. TUHAN memberikan pada hari itu kemenangan yang besar... . maka berdirilah ia di tengah-tengah ladang itu, ia dapat mempertahankannya dan memukul kalah orang Filistin. Demikianlah diberikan TUHAN kemenangan yang besar."). 

Lagipula, saudara ingat bukan bagaimana Tuhan membunuh 185.000 tentara Asyur sementara tentara Israel sedang tak berdaya (2 Raja-Raja 19:35)? Jadi tanpa pahlawan-pun Tuhan sanggup mengalahkan dan menang atas musuh-Nya. Namun Tuhan ingin memberi kemenangan-Nya pada saudara dan ingin mengangkat saudara, itulah tujuan Tuhan. Syaratnya: saudara harus bersedia BANGKIT, BERTAHAN dan BERJUANG SAMPAI AKHIR. Kalau saudara lari, tentu Tuhan tak dapat memberikan kemenangan itu.

Jadilah ksatria saudaraku, Rise up-stand up and fight to the end, you won’t be sorry; you’ll be saved. Bangkitlah, bertahanlah dan berjuanglah sampai akhir, saudara takkan menyesal karena saudara akan diselamatkan. 

Oleh Yesaya Edy S
Dimuat dalam Tuntunan Hidup Berkemenangan Edisi September 2011

Senin, 02 Juli 2012

INCOMPLETE VICTORY

Seri Khotbah tentang "Kemenangan"

KEMENANGAN YANG TAK LENGKAP (incomplete victory)

2 Raja-Raja 13:18-19   

18 Sesudah itu berkatalah ia: "Ambillah anak-anak panah itu!" Lalu diambilnya. Setelah diambilnya, berkatalah Elisa kepada raja Israel: "Pukulkanlah itu ke tanah!" Lalu dipukulkannya tiga kali, kemudian ia berhenti.
19 Tetapi gusarlah abdi Allah itu kepadanya serta berkata: "Seharusnya engkau memukul lima atau enam kali! Dengan berbuat demikian engkau akan memukul Aram sampai habis lenyap. Tetapi sekarang, hanya tiga kali saja engkau akan memukul Aram."

                                                                           
Setelah melakukan petunjuk Tuhan yang disampaikan Tuhan melalui nabi Elisa, raja Yoas menang 3 kali berturut-turut dari Syria serta merebut kembali kota-kota Israel, seperti ditulis dalam 2 Raja-Raja 13:25 "Yoas bin Yoahas merebut kembali dari tangan Benhadad bin Hazael kota-kota yang dalam peperangan direbut Benhadad dari tangan Yoahas, ayah Yoas. Tiga kali Yoas mengalahkan dia dan mendapat kembali kota-kota Israel."

Tapi tahukah saudara bahwa kemenangan Yoas sebenarnya tidak lengkap atau tidak tuntas? 

Tadinya, Tuhan memberi janji kemenangan sempurna pada Yoas, yaitu bahwa Yoas akan mengalahkan Aram sampai habis lenyap dan bukan hanya 3 kali saja seperti yang dikatakan nabi Elisa pada ayat 17: "Itulah anak panah kemenangan dari pada TUHAN, anak panah kemenangan terhadap Aram. Engkau akan mengalahkan Aram di Afek sampai habis lenyap."

Tetapi kemudian nabi Elisa berkata: "Tetapi sekarang, hanya tiga kali saja engkau akan memukul Aram." Dan benarlah terjadi tepat seperti Firman Tuhan, dimana Yoas memang mengalami kemenangan atas Syria sebanyak 3 kali saja. Apa yang menyebabkan kemenangan Yoas tidak lengkap?


1. Kurang Mempunyai Passion (ayat 18)

Kurang mempunyai passion artinya kurang gairah, kurang spirit. Nabi Elisa menyuruh Yoas mengambil panah-panahnya yang lain dan bukan panah yang telah ia tembakkan sebelumnya yang oleh Elisa disebut anak panah kemenangan Tuhan. "Anak panah kemenangan Tuhan" bicara mengenai bagian yang akan Tuhan kerjakan sedangkan "panah-panah yang lain” ini bicara tentang bagian yang harus Yoas lakukan. 

Elisa lalu menyuruh Yoas memukulkan panah-panahnya yang lain tersebut ke tanah. Melalui banyaknya pukulan Yoas itu Elisa akan tahu berapa besar semangat dan kemauan Yoas dalam bertempur melawan Aram (Syria), makin banyak jumlah pukulan Yoas mencerminkan makin besar semangat Yoas melawan Aram dan makin besar semangat akan makin besar pula kemenangan. 

Saudara tidak perlu heran darimana Elisa dapat menilai Yoas, karena Elisa mampu melihat dari sudut pandang Allah, Elisa mampu menilai aspek-aspek rohani (ingat kisah dalam 2 Raja-Raja 6:17) sehingga ia mampu menilai spirit bertempur Yoas. Tapi ternyata semangat Yoas hanya sebatas 3 pukulan saja. 

Begitulah saudara, kemenangan saudara tidak bisa sempurna bila diri saudara sendiri kurang bersemangat untuk memperoleh kemenangan yang tuntas.


2. Terlalu Cepat Berhenti Berjuang (ayat 18)

Melalui pukulan Yoas itu Elisa juga akan tahu seberapa lama Yoas mau berjuang melawan Aram, makin lama ia memukul mencerminkan makin lama ia mau berjuang dan berapa kali ia ingin menang, sehingga akan makin lengkap pula kemenangan, tapi ternyata Yoas berhenti pada pukulan ketiga. 

Jadi saat Yoas berhenti pada pukulan ketiga, Elisa segera tahu bahwa nantinya Yoas akan berhenti berjuang begitu cepat sehingga kemenangannya terhadap Aram juga tidak akan tuntas dan benarlah..., Yoas hanya menang 3 kali dari Aram. 

Saudara, kemenangan saudara tak akan tuntas bila saudara terlalu cepat berhenti berjuang. Hidup ini adalah perjuangan tanpa henti, jadi untuk meraih kemenangan yang lengkap jangan pernah kendorkan perjuangan saudara.


3. Kurang militant (ayat 19)

Kurang militant artinya kurang suka berperang, mudah berkompromi dengan musuh. Yoas mencerminkan orang yang mendapat janji kemenangan dari Allah dan untuk meraihnya syaratnya ia harus berperang, sayangnya Yoas kurang militant, ia cepat puas dengan 1, 2 kali kemenangan, ia merasa aman, ia berjuang setengah hati dan itu membuat Elisa marah & berkata Yoas harusnya memukul sampai 6 kali. 6 adalah angka mendekati angka 7 yaitu angka sempurna, yang artinya pertempuran seumur hidup.  

Sejarah memang mencatat bahwa Yoas berkompromi dengan dosa. Ia tidak berbalik dengan sungguh-sungguh pada Tuhan melainkan masih hidup dalam dosa penyembahan berhala: "Ia melakukan apa yang jahat di mata TUHAN. Ia tidak menjauh dari segala dosa yang disuruh Yerobeam bin Nebat dilakukan orang Israel, tetapi terus hidup dalam dosa itu" (2 Raja-Raja 13:11).

Kompromi dengan dosa menghalangi kita memperoleh kemenangan yang sempurna. Sebagai prajurit Tuhan (2 Timotius 2:3) saudara tak boleh merasa cepat puas lalu berhenti bertempur, karena masih banyak pertempuran yang harus kita hadapi & musuh selalu menunggu-nunggu kesempatan untuk menyerang kita kembali (1 Petrus 5:8). 

Jadi, selama ini yang membatasi kemenangan saudara adalah saudara sendiri dan yang membuat kemenangan saudara tidak maksimal adalah saudara sendiri. Hidup ini adalah peperangan setiap hari, maka jadilah militant dan jangan setengah-setengah, jadilah orang yang suka berperang, bukan berperang secara fisik, tapi perangi kelemahan saudara, perangi dosa, perangi kemalasan saudara, bangkitlah agar kemenangan saudara sempurna. 

Sebelumnya: The Arrow of Victory


THE ARROW OF VICTORY

Seri Khotbah Tentang "Kemenangan"

ANAK PANAH KEMENANGAN

2 Raja-Raja 13:14-17

14 Ketika Elisa menderita sakit yang menyebabkan kematiannya, datanglah Yoas, raja Israel, kepadanya dan menangis oleh karena dia, katanya: "Bapaku, bapaku! Kereta Israel dan orang-orangnya yang berkuda!"  
15 Berkatalah Elisa kepadanya: "Ambillah busur dan anak-anak panah!" Lalu diambillah busur dan anak-anak panah.  
16 Berkatalah ia kepada raja Israel: "Tariklah busurmu!" Lalu ia menarik busurnya, tetapi Elisa menaruh tangannya di atas tangan raja,  
17 serta berkata: "Bukalah jendela yang di sebelah timur!" Dan ketika dibukanya, berkatalah Elisa: "Panahlah!" Lalu dipanahnya. Kemudian berkatalah Elisa: "Itulah anak panah kemenangan dari pada TUHAN, anak panah kemenangan terhadap Aram. Engkau akan mengalahkan Aram di Afek sampai habis lenyap."
 
Yoas raja Israel menerima tahta dari ayahnya dengan kondisi kerajaan mengenaskan, kota-kota Israel jatuh pada Aram (Syria), angkatan perangnya dibinasakan seperti abu & hanya tersisa 50 pasukan berkuda, 10 kereta & 10.000 prajurit (2 Raja-Raja 13:7). 

Tapi kemudian Yoas bisa membalikkan keadaan, ia menang 3 kali berturut-turut & merebut kota-kota Israel yang dirampas oleh Aram (2 Raja-Raja 13:25). Bagaimana bisa Yoas yang memulai pemerintahannya dengan angkatan perang yang lemah dapat merebut kemenangan? 

Ternyata karena Yoas mendapatkan ANAK PANAH KEMENANGAN dari Tuhan, seperti dikatakan Elisa dalam ayat 17: "Itulah anak panah kemenangan dari pada TUHAN."

Saudara mengalami kekalahan? Saudara juga dapat membalikkan keadaan, menang & merebut apa yang dirampas iblis dari hidup saudara bila saudara mempunyai ANAK PANAH KEMENANGAN Tuhan. Bagaimana mendapatkan & menggunakan anak panah kemenangan dari Tuhan?    


1.  Harapkan Tuhan (ayat 14) 

Satu saat nabi Elisa yang biasa menyampaikan Firman dan petunjuk Tuhan pada orang Israel, sakit keras & hampir mati. Yoas menengoknya dan menangisinya. Kenyataan bahwa Israel akan kehilangan Firman Tuhan atau petunjuk Tuhan, membuat raja Yoas menangis & berkata, "Bapaku, bapaku! Kereta Israel dan orang-orangnya yang berkuda!" 
Yoas takut bila Elisa meninggal, Tuhan tidak lagi membela Israel. Perkataan dan sikap Yoas menyatakan bahwa ia sedih dan merasa siapa lagi yang akan membela Israel bila nabi Elisa nanti tiada, siapa lagi yang akan menyampaikan perkataan-perkataan Tuhan atau Firman Tuhan dengan penuh kuasa seperti Elisa. Seluruh Israel tahu bahwa perkataan Tuhan yang disampaikan melalui nabi Elisa sangat berkuasa sama seperti kekuatan angkatan perang. 

Yoas hanya punya 10 kereta perang dan pasukan berkuda, namun Yoas lebih mengkhawatirkan bahwa Israel akan kehilangan Elisa, Yoas lebih mengkhawatirkan bahwa Israel akan kehilangan Firman Tuhan karena Yoas menganggap bahwa Firman Tuhan yang ada pada Elisa sama kuatnya dengan angkatan perang, dengan kereta dan kuda-kuda.

Dalam tangisannya Yoas mengharapkan Tuhan, ia menganggap Tuhanlah kekuatan Israel, "Tuhanlah angkatan perang” yang mampu membela Israel. Pengharapan pada Tuhan inilah yang nantinya membuat Yoas mendapat anak panah kemenangan Tuhan yang membawa Yoas pada kemenangan atas Syria.

Bagaimana dengan saudara? Harapkanlah Tuhan...
Bila saudara mengharapkan Tuhan lebih dari kekuatan jasmani, harta, kepandaian atau lebih dari apapun yang saudara bangga-banggakan dan saudara kejar selama ini..., maka dampaknya akan berkali lipat lebih besar daripada jika saudara menghabiskan waktu hanya dengan berjuang mati-matian mempertahankan dan mengejar hal-hal itu.  


2.  Saudara Harus Selalu Dalam Posisi Siap Tempur (ayat 15)

Sebelum mengucapkan nubuat tentang kemenangan Israel, nabi Elisa menyuruh Yoas mengambil busur dan anak panah. Itulah sarana untuk mencapai kemenangan. Dalam seluruh perintah Elisa yang bersifat profetik ini, terkandung bahasa simbol. Busur dan panah adalah perlengkapan perang. Untuk menang terhadap Syria Yoas harus angkat senjata, busur dan panah, artinya Yoas harus siap tempur. 

Namun persenjataan Yoas tidak seperti biasa. Dalam ayat 15 disebutkan bahwa anak panah yang melesat ditembakkan Yoas disebut Elisa sebagai anak panah kemenangan Tuhan. Jadi, ada kekuatan Ilahi yang menyertai Yoas. Ia tak hanya berperang dengan busur dan panah, namun kuasa Tuhan juga menyertai dia dalam peperangan, dan itulah senjata yang membawa kemenangan baginya. 

Sudahkah saudara siap tempur? Pakai dan gunakan perlengkapan perang saudara sesuai medan apa yang akan saudara hadapi. Saudara ada dalam medan bisnis? Pelajari segala hal tentang medan tersebut, pakai pengetahuan dan sumber daya saudara. Yang paling penting lagi adalah masukkan “anak panah kemenangan Tuhan" yaitu Kristus dan Firman-Nya dalam daftar teratas! Ya, Firman Tuhan itulah anak panah kemenangan kita (Yesaya 49:2, Mazmur 45:6). Beriman pada Kristus dan lakukan Firman-Nya. Firman Tuhan bukan untuk direnungkan saja, Firman Tuhan itu juga senjata kita. 

Perkatakan dan lakukan dengan penuh iman maka Firman itu takkan kembali pada saudara dengan sia-sia, tapi akan kembali dengan membawa kemenangan. Ingat bahwa keahlian saudara, kepandaian saudara, kekuatan saudara ada batasnya, makanya kuasa Firman Tuhanlah yang akan menjadi agen yang menembus keterbatasan saudara.


3.  Relakan diri saudara untuk diajar oleh Tuhan (ayat 16)

Yoas adalah pemanah ulung, tapi mengapa nabi Elisa yang sedang sekarat menaruh tangannya di atas tangan Yoas, mengajari Yoas seolah-olah Yoas baru saja belajar memanah? Sekali lagi adegan ini juga bersifat profetik.

Ada beberapa arti penting di sini. Pertama, meski saudara sudah punya keahlian tertentu & saudara juga sudah punya “anak panah kemenangan Tuhan” (Firman Tuhan yang berkuasa), tapi saudara tetap harus mau taat terhadap ajaran Tuhan, sebab hanya dengan taat pada Tuhanlah maka kuasa Firman Tuhan itu dapat bekerja secara sempurna bagi saudara. 

Kedua, untuk berperang bersama Tuhan saudara harus menanggalkan pikiran bahwa saudara ahli & belajarlah pada Tuhan sama seperti seorang yang belum tahu apa-apa. 

Ketiga, kelihatannya tangan Elisa yang sedang sekarat akan membebani tangan Yoas yang memegang busur & kelihatannya anak panah Yoas takkan melesat secepat kilat, begitulah bila saudara diajar oleh Tuhan, kelihatannya hidup saudara terasa berat mungkin karena harus melakukan ini dan itu, kelihatannya “anak panah kemenangan Tuhan” (Firman Tuhan itu) tidak segera membawa kemenangan. Tapi sebenarnya Tuhan sedang melatih saudara agar dapat menghadapi masalah yang lebih besar. Tuhan tidak mau saudara jadi bodoh, lemah & kerdil, Tuhan ingin saudara jadi pemenang sejati yang dapat menghadapi musuh selicik lucifer, musuh sekuat Goliat, tantangan sebesar gunung & rintangan sedahsyat laut Teberau.


4.  Bergerak untuk Suatu Sasaran (Ayat 17)

Yoas disuruh menembakkan panahnya di sebelah timur. Mengapa sebelah Timur? Itulah kota-kota Israel yang dirampas oleh Aram (2 Raja-Raja. 10:33). 

Dalam peperangan, ada sasaran atau tujuan yang hendak dicapai. Tetapkan sasaran atau tujuan saudara dalam hidup ini. Semua yang saudara lakukan baik itu kecil atau besar, seharusnya terarah pada satu sasaran, yaitu sasaran yang telah dirampas iblis, sebab iblis merampas berkat-berkat rohani dan berkat jasmani yang teruntuk bagi saudara, seperti kemerdekaan saudara, sukacita saudara, dsb. Melangkahlah dengan iman, sebab dengan iman maka Firman itu takkan kembali pada kita dengan sia-sia, melainkan membawa kemenangan.

Jadi tunggu apa lagi..., kombinasikan kemampuan saudara bersama anak panah kemenangan Tuhan (Firman Tuhan) untuk menuju sasaran dan raihlah kemenangan.

"Firman-Nya adalah anak panah kemenangan yang tidak pernah kembali dengan kekalahan, melainkan kembali membawa kemenangan"

Selanjutnya: Incomplete Victory


Rabu, 27 Juni 2012

YOUR WORD IS MY LIFE

FIRMAN-MU ADALAH HIDUPKU

Ulangan 32:47
Sebab perkataan ini bukanlah perkataan hampa bagimu, tetapi itulah hidupmu, dan dengan perkataan ini akan lanjut umurmu di tanah, ke mana kamu pergi, menyeberangi sungai Yordan untuk mendudukinya."

Sandhy Sondoro memborong 4 piala di Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards 2011. Musisi yang lebih dulu dihargai di luar negeri & mendapat penghargaan di Latvia ini berkata bahwa baginya musik menjadi jalan hidup yang harus dijalani sepenuhnya. “Menciptakan karya-karya selanjutnya itu jalan hidup saya, hidup saya 100 % buat musik.” Demikian komentarnya.

 Bukankah di antara kita pernah mengatakan hal senada? Para pecinta musik berkata: “music is mylife (musik adalah hidupku),” para insan film berkata: “film adalah hidupku,” para pebisnis berkata: “bisnis adalah hidupku.” Mereka berkata demikian mungkin karena mereka mencintai hal-hal itu atau merasa tak dapat dipisahkan dari hal-hal itu & jiwa mereka hampa tanpanya, atau mungkin karena hal-hal itu sumber penghidupan mereka. Mereka menganggap hal-hal itu adalah hal yang vital yang menentukan hidup mereka. Bagaimana dengan saudara? Tuhan melalui Musa menyatakan hal paling vital bagi hidup manusia bukanlah makanan jasmani, bukan pula pekerjaan-pekerjaan yang digeluti manusia dan olehnya kita berkata “itulah hidupku.” Tuhan menyatakan pada umat Israel bahwa perkataan Tuhan (Firman Tuhan) itulah hidup mereka.

Dalam Ulangan 32:47 di atas Musa mengingatkan orang Israel untuk tidak menganggap Firman Tuhan sebagai kata-kata hampa atau kosong, karena dalam banyak peristiwa di padang gurun umat Israel menganggap Firman sebagai kata-kata hampa yang takkan berdampak apa-apa bagi aspek jasmani mereka. Umat Israel:

   lebih mencintai yang kelihatan (Ulangan 32:16),
    lebih menghargai yang kelihatan (Keluaran 16:3),
    lebih takut pada hal-hal yang kelihatan (Bilangan 13:31-33),
    lebih bergantung & mempercayai yang kelihatan (Ulangan 31:20)

Umat Israel lebih mempercayai hal-hal yang kelihatan daripada mempercayai Firman. Karena itulah Musa mengaitkan Firman dengan kelangsungan hidup mereka di tanah Kanaan: bahwa Firman itulah hidup mereka yang akan membuat hidup mereka di Kanaan nanti sejahtera, baik dan panjang umur. 

Peringatan yang sama juga tertuju pada saudara: Firman adalah hidup saudara sebab saudara hidup dari Firman Tuhan (Ulangan 8:3). Bukankah semua yang saudara makan berasal dari Firman yang menumbuhkan tanaman, semua yang saudara pakai & semua yang saudara kenakan juga dijadikan oleh Firman, tanah tempat saudara berpijak & lahan yang saudara garap bukankah Firman yang menjadikannya, barang-barang yang saudara perjual-belikan juga berasal dari bumi yang diciptakan dengan Firman-Nya (Kejadian 1:1-31). Belum lagi air, oksigen & semua yang kita perlukan dijadikan oleh Firman.

Jadi, bukan hanya diri saudara yang memelihara hidup saudara dengan makanan & pekerjaan saudara, namun yang paling vital adalah Firman yang memberi hidup pada saudara & memelihara hidup saudara. Firman tidak hanya menentukan kesejahteraan rohani saja tapi juga sangat menentukan kesejahteraan jasmani saudara. Tuhan Yesus berkata “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." Artinya, Firman itu cukup untuk menjamin hidup saudara, saat saudara tidak berdaya sama sekali maka bukan makanan & bukan pula pekerjaan saudara yang bisa menolong saudara, tapi Sabda Tuhanlah yang dapat menolong saudara.

Jelaslah bahwa dalam Firman itulah tergantung hidup mati saudara, keberhasilan atau kegagalan, kemenangan atau kegagalan saudara. Maka maukah saudara mempercayai, mencintai & mentaati Firman itu dalam setiap langkah saudara dan berkata “Your Word is my life?”  

[Oleh: Yesaya Edy S]
Tuntunan Hidup Berkemenangan Edisi Agustus 2011 

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More